Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Psychological Triggers For Copywriting

Psychological Triggers for Copywriting
Psychological Triggers For Copywriting
Psychological Triggers For Copywriting - Di materi sebelumnya aku membahas copywriting formula, di materi ini aku mau membahas bagaimana sebuah copy bisa menyentuh emosi target konsumennya, sehingga mereka tuh mau melakukan sebuah tindakan.

Pengertian Psychological Triggers

Kemampuan sebuah copy untuk membangkitkan emosi target konsumennya ini disebut dengan Psychological Triggers yaitu, ketika pengalaman seseorang membeli sebuah produk dipengaruhi oleh dorongan psikologis atau emosionalnya. 

Contohnya, teman-teman pernah nggak membeli sebuah produk bukan karena fitur atau benefit yang ditawarkan, tapi karena packaging-nya bagus atau karena brand ambassador produk tersebut adalah idola kita, atau bisa juga karena diskon ditawarkan besar up to 70%. 

Kalau pernah sama, aku juga pernah seperti itu loh. Itu tandanya sebuah brand berhasil memainkan sisi emosional kita sebagai target konsumen mereka. 

Nggak bisa dipungkiri kalau ada banyak kustomer yang membeli produk bukan berdasarkan pertimbangan logikanya mereka. 

Profesor Zopfan dari Harvard Bussiness School mengatakan, 95% keputusan pembelian itu terjadi tanpa sadar, alias impulsif, itu artinya keputusan pembelian itu didorong oleh sisi emosional kita. 

Karena itu, penting bagi seorang copywriter untuk bisa menyentuh emosi target konsumennya, caranya dengan memasukkan aspek psikologis pada copy yang dibuat. 

Psychological Triggers ini di taruhnya di mana sih?, bisa di headline, body copy, call to action sampai ke tagline dan juga slogan. 

Aspek Psychological Triggers

Aspek Psychological Triggers
Aspek Psychological Triggers
Ada banyak aspek psikologis yang bisa diterapkan dalam copywriting, tapi aku bakal bahas beberapa yang paling sering digunakan ya, yaitu:
  1. Curiosity
  2. Promises
  3. Social Proof
  4. Halo Effect
  5. Mirror Neurons
  6. Reciprocity
  7. Scarcity
  8. Emoji
Mau tau penjelasan lengkapnya?, tetap fokus dan baca artikel ini ya.

Psychological Triggers : Curiosity

Pertama Curiosity, unsur curiosity artinya copy kamu harus mampu membangkitkan rasa penasaran target konsumen. 

Contohnya seperti ini, kira-kira "siap-siap! ada yang OWSEM 3 hari lagi" kamu penasaran nggak kalo liat iklan tadi?. 

Pasti bertanya-tanya kan, ada apa sih tiga hari lagi. 

Nah, kalau dari awal target konsumen udah penasaran kemungkinan mereka untuk cari tahu lebih lanjut tentang produk kita bakal jadi besar, berarti peluang mereka untuk melakukan tindakan pasti bakal semakin besar juga. 

Psychological Triggers : Promises

Yang kedua, adalah Promises artinya copy kamu harus terdengar menjanjikan atau meyakinkan target konsumen. 

Contohnya, kamu tahu kan sebuah e-commerce dengan tagline #DijaminOri. 

Selain berfungsi sebagai tagline, kalimat ini sekaligus menjadi jaminan buat konsumen kalau produk yang dijual itu pasti original, sehingga nggak akan muncul kekhawatiran di benak konsumen. 

Eh, produknya itu ori nggak ya?. Kalaupun masih ada yang ragu ada jaminan lain berupa kebijakan pengembalian uang, jika barang yang diterima tidak original, itu juga salah satu bentuk Psychological Triggers yang bisa meyakinkan target konsumen untuk membeli produk yang kamu jual. 

Psychological Triggers : Social Proof

Ketiga, Social Proof, social proof atau bukti sosial, bisa meningkatkan rasa percaya target konsumen kepada brand atau produk yang lagi dipasarkan. 

Berikan bukti atau testimoni kalau produk atau brand yang kamu iklankan ini sudah banyak digunakan oleh orang-orang. 

Sebab, merupakan naluri alamiah manusia kalau kita itu lebih mudah percaya jika sudah ada bukti orang lain melakukan hal tersebut. 

Menariknya, social proof itu juga bisa menimbulkan phomo effect atau fear of missing out

Artinya, ada beberapa target konsumen yang memang takut kalau nggak ngikutin produk-produk yang lagi happening

Nah, semakin banyak jumlah customer yang kamu sebutkan, semakin banyak juga target konsumer baru yang mau melakukan tindakan terhadap produk yang kamu iklankan. 

Contoh penerapannya bisa seperti ini nih, copy ini menjelaskan kalau lebih dari 15 juta murid sudah terbantu dengan adanya aplikasi ruangguru. 

Terus, kamu juga bisa kasih tambahan review dari pengguna juga loh, yang bilang kalau video pembelajaran yang sangat menarik dan mudah diingat, sehingga dia bisa masuk ke PTN favorit nya dia.

Jadi, social proof semakin kuat kan?. 

Psychological Triggers : Halo Effect

Lanjut yang keempat adalah Halo Effect, halo effect sebenarnya hampir sama dengan social proof, hanya saja halo effect menekankan pada positif experience atau pengalaman positif customer terhadap sebuah brand.

Yang ternyata bisa berpengaruh juga pada produk lainnya dalam brand tersebut. 

Contoh yang paling populer adalah iPod dan itunes di tahun 2005, penjualan iPod mencapai 42 juta US Dollar, orang-orang langsung tergila-gila dengan Apple, hanya karena iPod nya yang mencuri perhatian. 

Jadi halo effect tadi membuat peningkatan sales Apple, tidak hanya datang dari iPod aja sih, tapi juga dari produk-produk lain seperti MAC dan iTunes

Halo effect juga bisa dilakukan melalui endorsement atau menggaet influencer dan brand ambassador.

Contohnya seperti campaign beberapa e-commerce, yang menggandeng idol grup dari Korea Selatan, seperti blackpink dan BTS sebagai brand ambassador yang mereka. 

Citra positif yang dimiliki selebritis atau influencer tersebut, pastinya akan menarik fans mereka untuk ikut menggunakan produk tersebut. 

Buktinya, waktu e-commerce tersebut menggumumkan BTS sebagai brand ambassadornya mereka, para fans BTS yang disebut dengan Army, langsung heboh di Twitter dan bilang kalau mereka bakal langsung nge-download aplikasi e-commerce tersebut, demi BTS. Besar banget ya impactnya

Psychological Triggers : Mirror Neurons

Lanjut, ke Psychological Triggers yang kelima, yaitu Mirror Neurons. Pernah gak sih, kamu lihat orang menguap terus jadi ikutan nguap juga?. 

Nah, hal itu timbul, karena otak manusia itu memiliki mirror neurons atau saraf cermin yang membuat kita mencerminkan apa yang dilakukan oleh orang lain. 

Maksud mencerminkan di sini tu bukan hanya menirukan ya, tapi juga bisa berempati atau merasakan suatu sikap maupun emosi milik orang lain, seolah-olah kita benar-benar melakukan hal tersebut.

Dalam dunia copywriting, mirror neurons bisa digunakan dengan menulis cerita berdasarkan pain poin atau keresahan target konsumen. 

Bisa juga tentang interest mereka dan yang paling menarik adalah dengan menulis sesuatu yang terkait dengan memori dalam diri mereka sendiri. 

Uniknya, mirror neurons biasanya diaplikasikan secara implisit pada copy, tidak menyebut secara gamblang produk yang akan diiklankan, Contohnya seperti iklan-iklan produk dari Thailand. 

Teman-teman pasti udah tahu kan kalau iklan Thailand itu terkenal dengan ceritanya bagus-bagus bahkan kebanyakan iklan itu sedih-sedih. 

Contohnya ada sebuah iklan perusahaan asuransi Thailand yang berjudul "Unsung Hero" ceritanya ada seorang pria yang setiap hari melakukan beberapa kebaikan yang sama, mulai dari memindahkan pot ke bawah pipa air agar tidak ada orang tersiram seperti dirinya. 

Membantu ibu pedagang menaikan gerobaknya ke trotoar, memberi potongan ayam ke anjing, memberi sedekah ke ibu dan anak yang lagi mengemis, sampai rutin memberi pisang ke tetangganya yang lansia.

Setiap hari melakukan itu, sampai ada orang orang berpikir, ngapain sih dia kayak gitu emang ada untungnya ya dia begitu?. 

Sampai suatu hari dia mencari anak pengemis tapi kok nggak ada ya? Ternyata si anak pengemis ini datang menggunakan seragam sekolah dan di part tersebut tertulis, "What he does receive are emotions, receives what money can't buy". 

Waktu menonton itu, aku langsung ikut ngerasa tersentuh loh, ada rasa haru, ada juga bahagia, karena melihat emosi kebahagiaan orang-orang yang dibantu oleh laki-laki tersebut. 

Nah, itu merupakan contoh dari penerapan mirror neurons, bagaimana iklan tersebut bisa mempengaruhi emosi penonton, nya entah itu ikutan sedih, atau bahagia. 

Dan kalau diperhatikan iklan Thailand itu kebanyakan gak nyambung dengan brand atau produk yang lagi dipasarkan, kayak contoh tadi ternyata adalah iklan produk asuransi. 

Malah di bagian endingnya, iklan ini untuk memberikan pertanyaan kepada penontonnya, "kalau di hidupmu, apa yang paling kamu inginkan?". 

Pertanyaan yang pasti akan mengena dan berbekas di benak penontonnya, dan pasti efektif melibatkan emosi. 

Psychological Triggers : Reciprocity

Keenam adalah Reciprocity atau timbal balik, nggak bisa dibohongin pasti kita senang dong kalau dapat bonus diskon atau cashback saat kita melakukan tindakan terhadap suatu produk. 

Reciprocity terbukti jadi salah satu Psychological Trigger yang simple, namun efektif menarik perhatian target konsumen. 

Karena, konsumen cenderung tertarik untuk melakukan sebuah tindakan kalau ada benefit yang lebih, atau apa yang bisa mereka dapatkan. 

Contoh pengaplikasian reciprocity dalam copy misalnya seperti gini nih, tujuan utama spotify yang mengajak penggunanya untuk beralih dari akun gratis ke akun premium. 

Sebagai iming-iming, alias benefit lebih supaya penggunanya tuh mau pindah ke premium, spotify memberikan imbalan berupa free 3 bulan mencoba fitur premium mereka. 

Psychological Triggers : Scarcity

Selanjutnya, aspek psikologis yang ke-7 adalah Scarcity atau kelangkaan. Bagaimana sebuah copy mampu menggerakkan pada konsumennya untuk segera melakukan tindakan. 

Penerapan scarcity ini biasanya menggunakan kata-kata yang menunjukkan keterbatasan stok atau waktu misalnya hanya 4 hari berlaku sampai 14 Februari 2019 atau terbatas hanya untuk 50 orang pertama. 

Selain yang sudah disebutkan tadi ada satu lagi nih cara baru untuk menggali emosi target konsumen dengan menggunakan emoji. 

Psychological Triggers : Emoji

Teman-teman pasti udah akrab kan dengan emoji, biasanya kita menggunakan saat chat atau saat menggunakan media sosial. 

Kalau di dunia copywriting, emoji ini biasa digunakan pada email marketing dan push notification.

Dalam dunia copywriting, emoji tuh memiliki banyak kelebihan, pertama bisa membuat pesan yang kita kirim lebih menarik dan mudah diingat. 

Otak manusia itu lebih cepat mencerna pesan yang pakai emoji loh dibandingin yang full text, bahkan otak kita menangkap emoji sebagai sebuah informasi nonverbal yang memudahkan tersentuhnya sisi emosional dari dalam diri. 

Kedua, emoji juga membantu membangun persona brand atau bisnis kamu, jadi bisa lebih friendly serta bisa meningkatkan keakraban antara brand dengan customer-nya. 

Contohnya, ada di push notification ini, dengan menambahkan emoji di akhir copy seolah-olah menekankan kalau nasi ayam kungpao ini benar-benar lezat dan mengiurkankan untuk dicoba. 

Nah, itu tadi pembahasan soal psychological triggers dalam dunia copywriting. Jangan lupa diaplikasikan dalam copy yang kamu mau buat yah. 

Setelah ini aku bakal ngebahas skill apa aja yang harus dimiliki seorang copywriter, dimulai dari basic writing skills kira-kira kemampuan menulis seperti apa sih yang harus dimiliki seorang copywriter?. 

Temukan jawabannya di materi selanjutnya ya.

Posting Komentar untuk "Psychological Triggers For Copywriting"