Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jenis Media Copywriting

 

jenis media copywritng
Jenis Media Copywriting

Jenis Media Copywriting - Setelah di materi sebelumnya aku udah bahas tentang definisi dan fungsi copywriting. Sekarang waktunya nge-bahas tentang di mana aja sih biasanya copy itu bakalan muncul

Jenis Media Copywriting

Nah, secara garis besarnya media copywriting itu terbagi jadi dua, yaitu:
  1. Media Tradisional
  2. Media Digital. 
Mari simak penjelasan di bawah ini, fokus dan jangan lupa siapin kopi kesayangan kamu ya.

Media Tradisional

Media tradisional adalah media yang dari dulu udah sering kita lihat sebagai tempat beriklan atau bisa dibilang sebagai media utama beriklan sebelum era internet berkembang. Nah, ada tiga jenis media tradisional, yaitu:
  1. Media Cetak.
  2. Media Broadcast atau Penyiaran.
  3. Media Luar Ruangan.
Aku bahas dari media cetak dulu ya, yang termasuk contoh media cetak itu ada majalah, koran, pamflet, brosur, booklet dan katalog.

Media Cetak

Ada dua bentuk copy dalam bentuk media cetak, Pertama yaitu adalah iklan display atau display ads atau juga dikenal sebagai banner

Iklan display adalah iklan yang didalamnya udah mencakup copy dan desain visual atau gambar. Biasanya sih iklan display diaplikasikan di majalah, koran, pamflet, dan brosur. 

Nah, panjang pendeknya copy itu sangat bergantung pada dimensi atau ukuran iklan display serta besar kecilnya gambar yang digunakan dalam iklan tersebut. 

Kalau iklan display-nya full 1 halaman majalah, berarti space-nya lumayan besar sehingga copy yang ditulis bisa lebih detail, tapi kalau ukuran display nya kecil otomatis copy-nya juga lebih sedikit ya. 

Meski begitu, penulisan copy pada iklan display harus mengadopsi prinsip KISS atau Keep it Short and Simple, jadi kata-kata yang digunakan itu harus singkat padat jelas alias enggak boleh bertele-tele. 

Nah, selain iklan display ada juga namanya advertorial. Advertorial itu merupakan gabungan dari kata advertisement dan juga editorial. 

Dengan kata lain, adalah teks promosi yang dikemas dalam bentuk artikel layaknya produk jurnalistik. Karena bentuknya ini artikel tentu copy-nya bakal jauh lebih panjang dibandingin iklan display

Selain itu, kalo iklan display lebih mengarah ke hard selling, advertorial ini tuh lebih ke soft selling, jadi pembaca tuh jarang ada yang ngeh kalau misalnya yang mereka baca tuh merupakan artikel jualan loh. 

Contohnya seperti advertorial yang ini nih. Topik diangkat adalah cara agar kucing bisa selalu sehat dan panjang umur caranya dengan merawat tubuh kucing agar selalu bersih, nge-limpahin kasih sayang ke kucing, nge-buatin jadwal bermain dan terakhir memberi makan bergizi untuk si kucing. 

Nah di poin terakhir tuh baru ketahuan kalau misalnya ini adalah sebuah advertorial untuk produk makanan kucing. 

Nah karena letak key message dari advertorial itu biasa ditaruh di akhir artikel, sehingga tuh sering banget pembaca nggak sadar kalau yang mereka lagi baca adalah sebuah iklan. 

Maka dari itu advetorial disebut sebagai soft selling.

Media Penyiaran atau Broadcasting

Media tradisional yang kedua adalah media penyiaran atau broadcasting. Jenisnya itu ada TV dan juga radio. 

Nah untuk TV dan radio itu, karakteristik copy-nya lumayan berbeda lho. 

Keduanya itu cenderung menempatkan aspek story telling yang kuat untuk menarik perhatian dari konsumennya khususnya lewat sisi emosional. 

Nah contoh iklan dengan story telling yang kuat itu bisa kamu lihat di iklan-iklan dari Thailand, kenapa dibilang kuat karena banyak iklan Thailand tuh yang bisa ngebuat emosi penonton nya ikut larut, entah itu perasaannya sedih atau mungkin bahagia. 

Enggak cuma menggiring emosi penonton nya aja mereka juga bisa menyuntikan value-value dari produk mereka lewat cerita yang menyentuh. 

Nah pembahasan soal story telling ini bakalan aku bahas lebih lanjut di artikel basic writing skills ya. 

Media Luar Ruang

Lanjut ke media tradisional ketiga yaitu media luar ruang. Media iklan ini tuh bisa kita lihat di pinggir jalan atau tempat-tempat umum seperti stasiun, bandara dan terminal. 

Contoh media luar ruang itu ada billboard, poster, juga banner yang menempel di bus taksi dan kereta. Karakteristik media luar ruang tuh bersifat selintas maksudnya tuh apa sih?. 

Jadi, penempatan media luar ruangan itu kan kebanyakan di pinggir jalan atau di tempat-tempat yang biasa kita lewatin gitu aja, sehingga tuh kita cenderung melihatnya secara selintas atau sekilas. 

Hal ini berdampak pada panjang copy yang ditulis kata-kata yang digunakan biasanya lebih ringkas dibandingkan display di media cetak yaitu sekitar 5 sampai 6 kata. 

Kalo teksnya kepanjangan, gak bakal bisa dibaca semuanya dong. Berarti goals dari iklan tersebut gagal tersampaikan, selain itu teks singkat dinilai lebih efektif dan mudah diingat. 

Makanya kadang pada billboard itu tidak terlalu menunjukkan detail atau value preposition tapi lebih mementingkan headline yang catchy atau menarik perhatian. 

Malah kadang lebih menonjolkan visualisasinya tanpa ada call to action.

Media Digital

Masuk ke jenis media yang kedua yaitu media digital. Nah, media digital ini juga macam-macam loh bentuknya, yaitu:
  1. Website
  2. Media Sosial
  3. Video Digital
  4. Email Marketing
  5. Mobile Apps

Website

Pada website, ada bentuknya iklan display atau banner atau advertorial. Karakteristik banner tuh bisa dibilang mirip dengan media cetak, yaitu terdiri dari copy dan visual, sehingga panjang pendeknya copy mengikuti ukuran banner dan besarnya gambar. 

Kalau kamu seorang copywriter nggak menutup kemungkinan sih, selain membuat copy banner kamu juga akan menulis detail iklan atau promosi yang bakal muncul ketika banner tersebut di klik. 

Selanjutnya ada advertorial atau disebut web copy. Karakteristiknya tuh mirip dengan advertorial di majalah atau koran. 

Cuman jumlah kata pada web copy lebih sedikit dibandingin majalah dan di koran. 

Perbandingan jumlah kata-katanya tuh sekitar 50% atau setengahnya, misalnya kalau kamu nulis advertorial di koran atau majalah mencapai 1000 kata, di website cukup sekitar 500 kata aja loh. 

Alasannya, mata manusia tuh cenderung 25% lebih lambat membaca tulisan di layar dibandingkan dengan membaca di kertas. 

Selanjutnya mata itu juga bakal lebih cepat capek kalau misalnya terlalu lama Menatap layar monitor. Nah perbedaan selanjutnya itu terletak pada SEO atau search engine optimization. 

SEO merupakan serangkaian proses yang dilakukan untuk meningkatkan trafik kunjungan web supaya web copy yang kamu tulis bisa muncul di halaman pertama Google

Terus apa aja sih yang mempengaruhi SEO ini? Pertama itu ada judul dan headline ke web copy kamu, yang kedua paragraf pertama atau 100 kata pertama dalam web copy tersebut. 

Di kedua bagian ini kamu harus memasukkan keyword atau kata-kata yang biasanya digunakan orang ketika mencari sebuah topik, ingat keyword yang kamu pilih harus tetap relevan dengan isi web copy-nya ya. 

Media Sosial

Jenis media digital yang kedua adalah media sosial, contohnya Facebook, Twitter, dan juga Instagram copy yang akan muncul masih berbentuk iklan display atau banner

Nah karena kecenderungan orang di media sosial itu kan nge-scroll dengan cepat, alias hanya melintas postingan secara sekilas, maka iklan display di media sosial itu harus eye catchy dari segi desain dan juga copy. 

Kamu bisa tulis kata-kata yang bisa membuat target konsumen berhenti dan lihat postingan kamu lebih lanjut, tapi jumlah kata-kata jangan panjang-panjang ya, idealnya tuh sekitar 25 karakter untuk headline dan maksimal 90 karakter untuk body copy-nya. 

Terkadang nih kamu juga harus menulis caption sebagai penguat image yang diposting.

Video Digital

Lanjut ke media digital ketiga yaitu video digital, konsepnya sama seperti iklan di TV yaitu mengedepankan story telling yang powerfull, bedanya videonya bakal muncul di platform berbasis internet seperti youtube

Email Marketing

Media digital ke-4 yaitu email marketing. Teman-teman pasti sering dapatkan email dari sebuah brand terkait promosi yang sedang berlangsung. 

Nah itu tuh salah satu bentuk copy yang dibuat oleh copywriter. Tapi, jangan sampai tertukar dengan newsletter email ya. 

Newsletter email adalah email yang berisikan daftar konten gratis terbaru, contohnya postingan blog dari sebuah brand yang diterbitkan oleh tim content marketingnya mereka. 

Intinya email marketing itu lebih ditunjukkan untuk keputusan transaksional, sedangkan newsletter itu lebih untuk mengedukasi sekaligus menumbuhkan brand awareness kepada konsumennya.

Karakteristik copy email marketing harus ringkas dan tidak bertele-tele, untuk bagian subject emailnya jumlah kata yang digunakan idealnya sekitar 41 karakter atau 7 kata aja, sedangkan untuk body emailnya maksimum 200 kata ya. 

Nah, dalam dunia digital marketing khususnya email marketing kamu tuh perlu tahu istilah Open Rate dan Click Through Rate atau CTR. 

Open Rate adalah angka yang menunjukkan berapa banyak email kamu dibuka oleh penerima, sedangkan Click Through Rate atau CTR adalah angka berdasarkan banyaknya orang yang ngeklik link yang tercantum di body email kamu.

Semakin menarik subjek dan body yang kamu buat semakin besar pula angka Open Rate dan CTR yang dihasilkan. 

Mobile Apps

Media digital ke-5 adalah mobile apps. Di mobile apss copy-nya juga akan muncul dalam bentuk display atau banner. 

Tapi ada ciri khas lain dari mobil apps, yaitu push notification

Push notification merupakan pesan notifikasi singkat dari sebuah aplikasi yang muncul di layar handphone kamu, karakteristik copy push notification ini mirip dengan email marketing sih, harus singkat padat dan jelas, mengingat space juga terbatas loh. 

Nah panjang body copy push notification yang ideal itu sekitar 10 sampai 15 kata dengan headline sekitar 5 sampai dengan 6 kata aja. 

Menurut localytics, push notificaton mengandung kurang dari 10 kata akan mendatangkan CTR alias Click Through Rate mencapai 8,8% sedangkan kalau kamu menggunakan lebih dari 10 kata maka CTR yang dihasilkan akan lebih sedikit. 

Ingat ya, selain memperhatikan jumlahnya kamu juga harus memperhatikan kata-kata yang kamu pilih dalam headline, karena headline push notification itu sangat powerful dalam menentukan jumlah Open Rate. 

Kalo headline-nya nggak menarik bisa-bisa target konsumenmu langsung hapus semua notifikasi ya gitu aja, tanpa baca dulu isi push notification-nya. 

Karakteristik ini tentu berbeda ya dengan media cetak, contohnya pamflet kalau di pamflet kamu tuh bisa aja langsung tulis Shocking Sale, diskon up to 70% sedangkan, di push notification kamu perlu memberi pertanyaan yang menggelitik target konsumen kamu, seperti mau tampil cantik tanpa mahal?. 

Media Tradisional vs Media Digital

Nah, tadi kan aku udah nge-bahas soal jenis dan karakteristik media tradisional dan digital, terus kira-kira media mana sih yang paling efektif buat beriklan?. 

Kalau teman-teman berfikir sekarang era-nya internet pasti media digital yang paling efektif, berarti anggapan temen-temen masih kurang tepat tuh. 

Karena menurut survei yang dirilis marketingsherpa di 2017, media tradisional khususnya media cetak masih menjadi media yang paling dipercaya konsumen ketika mereka ingin membeli sebuah produk.

Jika diperhatikan lebih lanjut nih empat jenis media yang ada di urutan 5 besar merupakan media tradisional, yaitu media cetak, iklan tv, iklan radio dan juga media luar ruang, sedangkan media digital yang paling dipercaya adalah email marketing atau berada di posisi ketiga. 

Selain itu ada sebuah studi komparasi terhadap efektivitas iklan produk cat di majalah dan video digital.

Studi komparasi yang dilakukan oleh Girsang di tahun 2017 ini menyebutkan, jika kedua media tersebut dinilai sama-sama efektif untuk memasarkan produk baik itu efektivitas dari segi empati, persuasi, impact dan juga komunikasi. 

Jadi udah tahu ya, jika kedua media ini tuh sama-sama efektif untuk beriklan, Selain itu efektivitas media ini juga harus disesuaikan dengan goals marketing yang kamu buat. 

Nah, kalau kamu niatnya mau meningkatkan awareness, media luar ruangan jadi pilihan yang tepat karena ukurannya yang cenderung besar dengan copy yang singkat. 

Sedangkan kalau kamu mau meningkatkan sales, media cetak, TV dan media sosial patut dipertimbangkan. 

Oke, setelah tahu berbagai macam media copywriting bukan berarti copywriter tuh jadi boleh milih-milih nih. 

Ah, mau nulis media cetak aja deh, mau di media sosial aja deh supaya lebih banyak yang nge-share, nggak kayak gitu ya. 

Dengan banyaknya media copywriting berarti semakin menambah challenge buat kamu sebagai copywriter untuk bisa menulis copy yang powerfull dan menarik, di berbagai macam media tadi, baik itu media tradisional maupun media digital. 

Nah selanjutnya aku akan lanjut nge-bahas soal basic knowledge for copywriter. Tepatnya soal copywriting formula, karena enggak cuma bikin kue, bikin copy yang menarik itu juga ada formulanya loh. Simak terus artikel selanjutnya sampai jumpa.

Posting Komentar untuk "Jenis Media Copywriting"